Selasa, 08 November 2011

PENGARUH KERAPATAN DAN PENUTUPAN LAMUN TERHADAP KELIMPAHAN Achaster angulatus PADA DAERAH PADANG LAMUN DI PULAU BARRANG LOMPO KOTA MAKASSAR

                                                                 I.       

PENDAHULUAN 

1.1      Latar Belakang

            Ekosistem padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang ditumbuhi oleh lamun (rumput-rumputan laut / sea grass) sebagai vegetasi yang dominan dan  mampu hidup secara permanen di bawah permukaan air laut. Padang lamun ini ditemukan di daerah bersuhu dingin dan daerah tropis memiliki banyak species dibanding daerah bersuhu lebih rendah / 4 musim. Dapat mentoleransi salinitas 24 sampai 35 ppm dan salinitas dapat mempengaruhi lamun terhadap biomasa, produktifitas, kerapatan, lebar daun, kecepatan tumbuh. Semakin tinggi salinitasnya semakin rapat berkembangnya. Hidup di substrat lumpur/pasir pada perairan yang landai (masih bisa hidup pada kedalaman 30 meter) tenang dan terlindung serta sangat tergantung pada cahaya matahari, (firman setiawan, 2010)
            Lamun (sea grass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Dimana secara ekologis lamun mempunyai beberapa fungsi penting didaerah pesisir. Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustacea, moluska ( Pinna sp., Lambis sp., Strombus sp.), Echinodermata ( Holothuria sp., Synapta sp., Diadema sp., Archaster sp., Linckia sp.) dan cacing ( Polichaeta), (Bengen, 2001).
Pulau Barrang Lompo merupakan tempat pelaksanaan praktik lapang mata kuliah ekologi laut. karena, terdapat banyak ekosistem padang lamun seperti : Halophila ovalis, Thalassia hemrichii, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Cymodocea rotundata dan Syringodium isoetifolium.

1.2    Tujuan dan Kegunaan

         Praktik lapang ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kerapatan dan penutupan terhadaap kelimpahan invertebrate yang beasosoiasi dengan padang lamun
         Kegunaan praktek lapang ini adalah untuk memahami cara perhitungan kerapatan dan penutupan lamun serta kelimpahan invertebrata. Diharapkan pula mahasiswa memahami hubungan timbal balik antar organisme dan lingkungannya yang berlangsung dalam ekosistem padang lamun.

1.3    Ruang Lingkup

   Ruang lingkup praktik lapang ini mencakup pengukuran kerapatan lamun, penutupan lamun, identifikasi lamun, dan identifikasi invertebrata, serta perhitungan kelimpahan invertebrata yang berada di padang lamun. Pengukuran parameter lingkungan seperti salinitas, suhu, dan kecepatan arus, sebagai faktor pendukung.

                                                                                            II.        TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Definisi Lamun

Lamun merupakan tumbuhan laut monokotil yang secara utuh memiliki perkembangan sistem perakaran dan rhizoma yang baik. Pada sistem klasifikasi, lamun berada pada Sub kelas Monocotyledoneae, kelas Angiospermae. Dari 4famili lamun yang diketahui, 2 berada di perairan Indonesia yaitu Hydrocharitaceae dan Potamogetonaceae. Famili Hydrocharitaceae dominan merupakan lamun yang tumbuh di air tawar sedangkan 3 famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut, (Rudy, 2011)
Lamun biasa tumbuh di atas paparan pasir atau lumpur yang terendam air laut dangkal. Karena perlu berfotosintesis, komunitas lamun berada di antara batas terendah daerah pasang surut sampai kedalaman tertentu di mana cahaya matahari masih dapat mencapai dasar laut (Nybakken, 1988).
Menurut Den Hartog, 1977, Lamun mempunyai beberapa sifat yang menjadikannya mampu bertahan hidup di laut yaitu :
1.    Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir
2.    Pada batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di dataran terumbu karang
3.    Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter, di perairan tenang dan terlindung
4.    Sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan
5.    Mampu melakukan proses metabolisme termasuk daur generatif secara optimal jika keseluruhan tubuhnya terbenam air
6.    Mampu hidup di media air asin
7.    Mempunyai sistem perakaran yang berkembang baik

2.2    Jenis- jenis lamun

Menurut Den Hartog, di Indonesia terdapat 12 jenis lamun antara lain :

1.      Enhalus acoroides

 Ujung daun membulat kadang-kadang terdapat serat-serat kecil yang menonjol pada waktu muda,tepi daun seluruhnya jelas, bentuk garis tepinya seperti melilit, tumbuh diperairan dangkal dengan substrat berpasir dan  berlumpur atau kadang-kadang diterumbu karang
Kalsifikasi :
Kingdom: Plantae
    Divisi : Spermatophyta
         Class: Liliopsida
             Order: Hydrocharitales
                  Family: Hydrocharitaceae
                      Genus: Enhalus
                         Spesies : Enhalus acoroides    

2.   Thalassia hemprichii

 Helaian daun berbentuk pita, terdapat spuluh sampai tujuh belas tulang-tulang daun yang membujur, pada helaian daun terdapat ruji-ruji hitam yang pendek, ujung dauunya membulat, tidak terdapat ligula, tumbuh didaerah substrat berpasir dan berlumpur, dan kadang-kadang di terumbu karang

Klasifikasi :
Kingdom: Plantae
   Divisi : Spermatophyta
         Class: Liliopsida
               Order: Alismatales
                    Family: Hydrocharitaceae
                          Genus: Thalassia .
                              Spesies :Thalassia hemprichii
           
3.    Cymodocea serrulata
 Memiliki rizhoma yang halus, tiap-tiap tunas terdiri dari  dua sampai lima  helaian daun, daunnya membentuk segitiga yang lebar, dan menyempit pada bagian pangkalnya, daunnya berwarna ungu pada tumbuhan yang masih hidup, tepi daunnya tampak jelas.
Klasifikasi :
Kingdom: Plantae
   Divisi : Spermatophyta
       Class: Liliopsida
           Order: Alismatales
                Family: Potamogetonaceae
                    Genus: Cymodocea
                         Spesies :  Cymodocea serrulata

4.    Cymodocea rotundata

Memiliki rizhoma yang halus dan bersifat herbaceous, tunas pendek dan tegak lurus pada setiap node, helaian  daunnya berkembang baik dan berwarna ungu muda, ujung daunnya licin (halus) membulat dan tumpul dan terkadang berbentuk seperti hati, terdapat lingula
Klasifikasi :
Kingdom: Plantae
      Divisi : Spermatophyta
           Class: Liliopsida
               Order: Alismatales
                    Family: Cymodoceaceae  
                         Genus: Cymodocea
                             Spesies : Cymodocea rotundata

5.      Syringodium isoetifolium

Rhizomanya tipis dan bersifat herbaceous, pada setiap node terdapat tunas tegak yang terdiri dari dua sampai tiga helai daun, daun-daunnya dengan mudah dikenali, daunnya berbentuk silindris, terdapat ligula.

Klasifikasi :
Kingdom: Plantae           
    Divisi : Spermatophyta
       Class: Liliopsida
          Order: Alismatales
             Family: Cymodoceaceae
                Genus: Syringodium
                    Spesies :   Syringodium isoetifolium

6.    Halodule uninervis    

 Tulang daun tidak lebih dari tiga, daun selalu berakhir pada tiga titik, yang jelas pada ujung daun, ujung dau seperti trisula, bagian tengah tulang daun yang hitam biasanya mudah robek menjadi dua pada ujungnya
 
Klasifikasi :
Kingdom: Plantae
     Divisi : Spermatophyta
        Class: Liliopsida
Order: Alismatales
                Family: Cymodoceaceae
                   Genus: Halodule
                       Spesies : Halodule uninervis

7.    Halodule pinifolia

Daunnya lurus dan tipis, tulang daunnya tidak lebih dari tiga, biasanya pada bagian tengah dari tulang-tulang daun mudah robek menjadi dua pada ujungnya, pada ujung daun terdapat tiga titik yang jelas.
Klasifikasi :
Kingdom: Plantae
    Divisi : Spermatophyta
        Class: Liliopsida  
           Order: Alismatales
               Family: Cymodoceaceae
                  Genus: Halodule  
                      Spesies :  Halodule pinifolia

8.  Halophila ovalis

Seperti tanaman semanggi, daunnya memiliki sepasang tangkai, daunnya mempunyai 10-25 pasang tulang daun yang menyilang, bagian tepi daun halus, rhizomanya tipis mudah dan halus, permulaan akarnya berkembang baik di pangkal pada setiap tunas
Klasifikasi :
Kingdom: Plantae
     Divisi : Spermatophyta
        Class: Liliopsida
            Order: Alismatales
                Family: Hydrocharitaceae
                  Genus: Halophila
                      Spesies : Halophila ovalis

9.    Halophila spinulosa

Daun berbentuk bulat panjang, setiap kumpulan daun terdiri dari 10-25 helaian daun yang saling berlawanan, tepi daun tajam, rhizomanya tipis dan kadang-kadang “berkayu”.

Klasifikasi :
Kingdom: Plantae
    Divisi : Spermatophyta
       Class: Liliopsida
          Order: Alismatales  
              Family: Hydrocharitaceae
                 Genus: Halophila
                     Spesies :  Halophila  spinulosa

10.   Halophila minor

 Daun berbentuk bulat panjang seperti telur, daun memiliki empat sampai tujuh pasang tulang daun, pasangan daun dengan tegakan pendek, panjang daun  berkisar 0,5-1,5 cm.
Klasifikasi :
Kingdom: Plantae
     Divisi : Spermatophyta
          Class: Liliopsida
              Order: Alismatales
                   Family: Hydrocharitaceae
                      Genus: Halophila
                          Spesies :  Halophila minor

11.   Halophila decipiens

 Memiliki daun yang berpasangan, helai-helai daunnya berbulu, tembus cahaya dan tipis menyolok, pada bagian tengah daun terdapat enam sampai Sembilan pasang tulang yang menyilang, tepi daun bergerigi, rhizomanya berbulu dan sering tampak kotor karena sedimen yang menempel.
Klasifikasi :
Kingdom: Plantae
    Divisi : Spermatophyta
        Class : Liliopsida
           Order: Alismatales
               Family: Hydrocharitaceae
                  Genus: Halophila
                      Spesies : Halophila decipiens

12. Thalassodendrom ciliatum.

Rhizomanya sangat keras dan berkayu, daun-daunnya berbentuk sabit dimana agak menyempit pada bagian pangkalnya, ujung daun membulat seperti gigi, tulang daun lebih dari tiga.
Klasifikasi :
Kingdom: Plantae  
   Divisi : Spermatophyta
      Class: Liliopsida
         Order: Alismatales
             Family: Cymodoceaceae  
                Genus: Thalassodendron
                    Spesies :  Thalassodendron ciliatum

2.3  Asosiasi Invertebrata (Achaster angulatus ) di Padang Lamun.

Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut, yang memiliki peran sebagai daerah asuhan bagi berbagai organisme di bawah laut, ada yang menetap dan mencari makan, ada juga yang hanya berkembang biak dan akan pergi dari daerah lamun tersebut saat sudah dewasa, selain itu ada juga yang datang hanya untuk mencari makan, (Ambo Rappe R, 2011).
Pada daerah padang lamun, banyak terdapat organisme melimpah salah satunya Achaster angulatus, karena lamun digunakan sebagai perlindungan dan persembunyian dari predator dan kecepatan arus yang tinggi dan juga sebagai sumber bahan makanan baik daunnya maupun epifit atau detritus. Jenis-jenis polichaeta dan hewan–hewan nekton juga banyak didapatkan pada padang lamun. Lamun juga merupakan komunitas yang sangat produktif sehingga jenis-jenis ikan dan fauna invertebrata melimpah di perairan ini. Lamun juga memproduksi sejumlah besar bahan bahan organik sebagai substrat untuk alga, epifit, mikroflora dan fauna, (Arif rifqi, 2011).
Achaster angulatus  adalah bintang laut yang elegan. Jenis seperti ini tidak lagi umum di semua pantai di Indonesia. Di daerah pantai bintang laut yang paling sering ditemui di bagian Selatan. Umumnya di daerah berpasir atau berlumpur dangkal dekat lamun, (Anonim, 2011)
Archaster angulatus biasanya di temukan di daerah lamun dan di substrat berpasir, untuk berkembang biak, dan mencari makan, hewan ini biasanya memankan detritus, yaitu potongan dari lamun dan detrivor yaitu organisme kecil dibawah laut seperi cacing.

2.4  Faktor  Lingkungan

Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi terhadap distribusi dan kestabilan ekosistem padang lamun adalah sebagai berikut:

2.4.1  Kecerahan

Lamun memiliki intensitas cahaya, yang dapat di gunakan sebagai proses fotosintesis. Hal ini menyebabkan, lamun sulit tumbuh di perairan yang lebih dalam. Intensitas cahaya untuk laju fotosintesis ditunjukkan dengan peningkatan suhu, (Nirwan, 2011)

2.4.2 Temperatur

Menurut  Philips dan Mehez 1988; dan Nybakken, 1992, Suhu optimal pada pertumbuhan lamun yaitu 28-30C Hal ini berkaitan dengan kemampuan proses fotosintesis yang akan menurun apabila temperatur berada di luar kisaran tersebut.

2.4.3  Salinitas

Kisaran salinitas yang dapat ditolerir tumbuhan lamun adalah 10–40‰ dan nilai optimumnya adalah 35‰.Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi juga terhadap jenis dan umur. Lamun yang tua dapat mentoleransi fluktuasi salinitas yang besar. Salinitas juga berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas, kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih, (Kiswara,1997).

2.4.4  Subtrat

Padang lamun hidup pada berbagai macam tipe subtrat, mulai dari Lumpur sampai sediment dasar yang terdiri dari endapan Lumpur halus sebesar 40%. Kedalaman substrat berperan dalam menjaga stabilitas sediment yang mencakup 2 hal, yaitu pelindung tanaman dari arus air laut, dan tempat pengolahan serta pemasok nutrient, (Arif rifqi, 2011).

2.4.5  Kecepatan arus

Kecepatan arus di pengaruhi oleh adanya jenis perairan yaitu perairan terbuka dan tertutup, kecepatan angin, dan kedalaman perairan. Kecepatan arus dapat mempengaruhi produktivitas padang lamun (Nontji, A. 1987). Karena pada saat kecepatan arus sekitar 0,5 m/detik, tumbuhan lamun mempunyai kemampuan maksimal untuk tumbuh.

2.4.6  Kekeruhan

Kekeruhan air adalah suatu ukuran biasan cahaya di dalam air yang disebabkan oleh adanya partikel koloid dan suspensi dari suatu polutan yang terkandung dalam air. Kekeruhan air juga merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan derajat kegelapan dalam air yang disebabkan oleh bahan yang melayang di dalam air.  Kekeruhan di perairan sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan atau aktivitas yang terjadi di perairan tersebut (Wardoyo, 1975).

2.4.7 Kedalaman  

Kedalaman perairan yang dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun dapat tumbuh pada zona intertidal bawah dan subtidal atas, hingga mencapai kedalaman 30 meter. Pada zona intertidal diciri oleh tumbuhan pionir yang di dominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, dan Halodule pinifolia. Sedangkan pada Thalassodendron ciliatum mendominasi zona intertidal bawah, (Hutomo, 1997). Kerapatan dan pertumbuhan lamun, dapat dipengaruhi oleh kedalaman perairan.

2.5  Kondisi Lamun dan Invertebrata Pulau Barrang Lompo

Pulau Barrang lompo terletak di antara 119o 19’ 44 BT dan 50 2’ 51 LS. Secara administratif pulau Barrang lompo merupakan wilayah desa yang berbentuk pulau. Luas wilayah daratan pulau barrang lompo adalah 89 hektar (Ambo Rappe R, 2004).
Pulau Barrang lompo terlletak sekitar 12 km sebelah barat kota Makassar dan berada dikawasan spermonde. Kepulauan Barrang lompo merupakan pulau yang memiliki kondisi lamun yang masih alami, dengan yang mempunyai substrat berupa pasir dan karang (Ambo Rappe R, 2004).
Terdapat enam spesies lamun di perairan laut pulau barrang lompo, yang mempunyai peranan sangat penting karena dapat menstabilkan substrat ataupun sedimem-sedimen yang masuk kepereiran pulau barrang lompo. Padang lamun merupakan tempat berasosiasi bagi organisme invertebrata. Invertebrata tersebut mencari makan dan bertempat tinggal di padang lamun (Ambo Rappe R, 2004).
Pada penelitian kali ini pada pulau Barrang lompo ditemukan organisme invertebrata yang berasosiasi dengan lamun yaitu Pinna sp., Archaster angulatus, dan Diadema setosum.

                                                                                     III.        METODE PRAKTIK LAPANG

3.1  Waktu dan Tempat

Praktik lapang dilaksanakan pada tanggal 24-35 September 2011. Bertempat di Pulau Barrang Lompo, Kota Makasaar .
3.2  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan yaitu : Layang-layang arus yang berfungsi untuk menentukan kecepatan arus, stopwatch berfungsi untuk menghitung waktu yang digunakan pada laying-layang arus, kompas bidik berfungi untuk menentukan arah arus, hand refractometer berfungsi untuk mengukur salinitas, thermometer berfungsi untuk mengukur air laut, Kantong sampel berfungsi untuk menyimpan sampel, alat tulis  menulis berfungsi untuk menulis hasil dari lapangan, alat dasar berfungsi untuk membantu dalam pengambilan data , dan transek 1x1 m2 digunakan untuk mengitung kerapatan dan penutupan lamun. Sedangkan,
Bahan yang digunakan dalam praktik lapang kali ini adalah lamun dan hewan invertebrata.

3.3  Prosedur Kerja Praktek Lapang

1 komentar:

  1. apa saya bisa belajar tentang cara menghitung lamun???

    BalasHapus